Bersama Zulika; sebuah pecakapan membuat momok tersendiri.
Tak menampikkan kejenakaan.
Zu, menurutmu adakah kesalahan dalam sebuah doa.
Karena ku pikir, aku terlalu lama berdoa ketimbang solat itu sendiri. Ini dalam
konteks Islam. Ya mesti kutahu, Tuhan kita memperbolehkan hambanya untuk
meminta apapun. Tapi apakah kita tidak memikirkan perasaan Tuhan. Hei , Tuhan
tentu punya rasa kan? Buktinya iya tidak tega memberikan ujian yang berat
diluar kemampuan hambanya. Ah aku tidak pernah tahu persis keluarbiasan sang
mahasuper keren Tuhan kita. Tuhan terlalu baik mendengarkan kita.
Jadi pada akhirnya kamu Li, memuji Tuhan lagi? Aku sangat menyukai
hamba yang tak lalai menyanjung Tuhannya. Terkecuali kamu hehe. Bukan
rasa, tapi Tuhan memiliki Zat yang lebih luarbiasa dari rasa itu sendiri. Bukan
rasa yang minus. Tuhan selalu, akan selalu di zona positif.
Mengenai doa, aku rasa tentu ada. Apalagi untuk hambanya yang banyak
permintaan, tak tahu diri. Tapi aku sangat menyesalkan, mengenai doa yang
berlaku, doa kepada kedua orang tua, “Ya Allah
ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana
mereka menyayangiku diwaktu kecil” bunyi doanya, aku seorang yatim piatu Li, ibu panti sangat
jahanam, ia memang mengasuhku, tapi aku yakin lubuk hati mereka tidak setulus
ibu/ bapak kandungku jika mereka merawatku, realitanya aku ditinggal begitu
saja oleh mereka yang membuatku dengan syahwat, tidak ada tanggungjawabnya.
Dan soal ibu panti, ia sangat senang aku keluar dari lingkupnya,
meminimaliskan biaya. Doa itu tidak berlaku bagiku dan tentunya bagi anak-anak
yang lebihkurangya senasib denganku, mengapa doa tersebut masih
mengeneralisasi?. Dan aku beruntung, semenjak ada mamah dede di stasiun teve
swasta, aku jadi merasa memiliki mamah.. Hahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar