Sabtu, 27 Juli 2013

Analogi Generalisasi

Bersama Zulika; sebuah pecakapan  membuat momok tersendiri. Tak menampikkan kejenakaan.

Zu, menurutmu adakah  kesalahan dalam sebuah doa.  Karena ku pikir, aku terlalu lama berdoa ketimbang solat itu sendiri. Ini dalam konteks Islam. Ya mesti kutahu, Tuhan kita memperbolehkan  hambanya untuk meminta apapun. Tapi apakah kita tidak memikirkan perasaan Tuhan. Hei , Tuhan tentu punya rasa kan? Buktinya iya tidak tega memberikan ujian yang berat diluar kemampuan hambanya. Ah aku tidak pernah tahu persis keluarbiasan sang mahasuper keren Tuhan kita. Tuhan terlalu baik mendengarkan kita.

Jadi pada akhirnya kamu Li, memuji Tuhan lagi? Aku sangat menyukai hamba yang tak lalai menyanjung  Tuhannya. Terkecuali kamu hehe. Bukan rasa, tapi Tuhan memiliki Zat yang lebih luarbiasa dari rasa itu sendiri. Bukan rasa yang minus. Tuhan selalu, akan selalu di zona positif.
Mengenai doa, aku rasa tentu ada. Apalagi untuk hambanya yang banyak permintaan, tak tahu diri. Tapi aku sangat menyesalkan, mengenai doa yang berlaku, doa kepada kedua orang tua, Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecil bunyi doanya, aku seorang yatim piatu Li, ibu panti sangat jahanam, ia memang mengasuhku, tapi aku yakin lubuk hati mereka tidak setulus ibu/ bapak kandungku jika mereka merawatku, realitanya aku ditinggal begitu saja oleh mereka yang  membuatku dengan syahwat, tidak ada tanggungjawabnya. Dan soal ibu panti, ia sangat senang aku  keluar dari lingkupnya, meminimaliskan biaya. Doa itu tidak berlaku bagiku dan tentunya bagi anak-anak yang lebihkurangya senasib denganku, mengapa doa tersebut masih mengeneralisasi?. Dan aku beruntung, semenjak ada mamah dede di stasiun teve swasta, aku jadi merasa memiliki mamah.. Hahaha.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar