Hei Pijar,
setelah ku patah hati dan tidak menemukan alasan temperatur semangat..Kau
datang Pijar. Kau sangat mirip dengan
Broto, aku menaruh harap padamu Pijar.
Aku berani untuk
menceritakan kepada teman-teman bahwa aku mengagumimu, teman—temanku pun banyak
yang meragukan keterusteranganku bahkan kau pun jg sprt itu :’(
Broto dan
wanitanya juga mendukungku Pijar..namun Kau tetap menyangsikan keseriusanku.
Malam itu Pijar,
kau bertanya mengenai perasaanku padamu..Aku takut Pijar, bilamana kujujur..ku
takut kau merasa tinggi hati dan semena-mena terhadap perasaanku.
Akhirnya kau
duluan yang mengakui,bahwa kau juga menyimpan rasa walaupun sedikit..dan aku
pun akhirnya mengakui pula.. rasa yang kusimpan ini sama imbangnya dengan yang
kau simpan itu.
Dan paginya,aku
berubah menjadi wanita pemalu....baru kali itu. Namun kututupi, demi
kenyamananmu.
Dan tiba-tiba
kejadian seperti”...aku merelakan lelaki yang kukagumi kepada sahabatku yang
lemah karna mantannya....” terulang kembali.
Kau Bahagia? Kau
biarkan aku melihat kemesraanmu? Kau biarkan aku melihat perubahanmu? Kau
biarkan aku melihat tingkah kekanak-kanakan penuh dengan nafsu? Kau biarkan aku
kehilangan pelipur lara? Kau biarkan aku menjadi wanita yang lebih tabah? Kau
biarkan aku menjadi teman curhat wanita mu? Dan mendengarkan tingkah lakumu
yang menyakitinya?
Aku menaruh
harap padamu....
Malam itu aku pergi
ke rs.untuk menjenguk wanita Broto, aku menjenguk berdua dengan Broto. Broto
memprediksihubunganmu dengan wanitanya takkan bertahan lama.
Pijar,bagaimana
bisa aku kembali berharap padamu..yang pada masa itu kau sedang dalam puncak
asmaraLLL
Beberapa bulan
kemudian, kau berpisah dengan wanitamu.. Hei Pijar,kau biarkan wanitamu
menangis dan lemah tak berdaya saat bercerita kepadaku?
Kau harapan
pelipur laraku namun dia adalah temanku yang menderita karnamu?
Sampai skrg
ja....
Wanitamu masih
berduka atas perpisahan kalian,namun aku mengharapkan kau kembali {sedikit}
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar