Dalam setiap alunan rasa, diselipkan kecup salam sukma
hingga ia akan meronta dan mengendalikan apa yang menjadi itikadnya
dengan kembali lagi melontarkan serangkaian kalimat yang memiliki daya tembus menyayat
lelaki itu bilang saya adalah ilham paling tulen akan fitrahnya
dirayu - rayu saya hingga melayu namun tetap "tidak" saya katakan mentah - mentah
ia menata kata demi kata... "sekian lama kamu dan saya melupakan kita"
sesekali saya ingin menjadi perihal genting melebihi dari apa yang dianggapnya penting
lalai melahirkan ketidakberartian namun kelak ditebas oleh ketiadaan...
manusia berbekal ingatan, melumpuhkan
memang begitu, perkaranya ia adalah proporsi keseluruhan yang menakjubkan
antara saya dan dia menyadari betul akan adakalanya menjemput pagi hanya dengan bersua saja
terasa seperti tidur bersama
------------
cengkrama sembari ndusel di kamar distopia kami (s)uka---(d)uka 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar